Sering Buang Air Besar, Apakah Normal atau Tidak?

Oleh Roby

Sering Buang Air Besar, Apakah Normal atau Tidak?

Buang air besar (BAB) merupakan proses alami yang sudah menjadi bagian dari keseharian semua orang. Hanya saja, frekuensi BAB untuk setiap orang tidak selalu sama. Bahkan, sebagian orang memiliki frekuensi BAB yang lebih tinggi atau sering. Apakah hal ini normal atau malah merupakan indikasi dari kondisi kesehatan tertentu? Berikut penjelasannya.

Berapa kali frekuensi buang air besar yang normal?

Seperti yang sempat disinggung di atas, frekuensi BAB untuk setiap orang berbeda-beda dan tidak ada aturan pasti mengenai hal ini. Akan tetapi, frekuensi BAB yang sehat dapat diukur dari prosesnya itu sendiri dan apa yang Anda rasakan setelah BAB.

Apakah Anda masih merasakan nyeri atau kembung dan apakah Anda mengalami kesulitan ketika BAB? Kedua pertanyaan tersebut dapat mengindikasikan normal atau tidaknya kebiasaan BAB yang Anda miliki.

Dengan kata lain, frekuensi sering atau tidaknya buang air besar untuk seseorang dapat dikatakan normal tetapi dapat menjadi sebuah indikasi gangguan kesehatan untuk orang lain. Misalkan, untuk beberapa orang BAB tiga kali sehari merupakan hal yang normal, tetapi untuk Anda sendiri, hal tersebut biasanya terjadi ketika Anda mengalami diare.

Frekuensi BAB normal dapat bervariasi mulai dari tiga kali dalam sehari hingga hanya tiga kali dalam seminggu.

Saya termasuk sering buang air besar, apakah saya perlu khawatir?

Apabila Anda mengalami peningkatan frekuensi buang air besar atau lebih sering dari biasanya, mungkin memang terjadi sesuatu pada saluran cerna. Namun penyebabnya cukup beragam. Mulai dari yang ringan hingga dapat mengindikasikan atau sebagai gejala dari penyakit tertentu.

Beberapa penyebab meningkatnya frekuensi BAB antara lain:

Perubahan gaya hidup

Gaya hidup yang erat hubungannya dengan pergerakan saluran cerna adalah pola makan dan aktivitas fisik.

Anda bisa lebih sering BAB karena mengonsumsi makanan yang berlemak, pedas, atau yang tidak bisa ditoleransi oleh tubuh. Selain itu, lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi serat juga dapat membuat Anda lebih sering buang air besar. 

Obat-obatan juga dapat mempengaruhi frekuensi BAB, misalnya antibiotik. Biasanya, frekuensi BAB akan kembali normal dalam satu atau dua hari apabila saluran cerna sudah bisa menyesuaikan pada perubahan kebiasaan yang Anda lakukan.

Diare

Salah satu penyebab yang umum dialami sebagian besar orang ketika jadi lebih sering buang air besar adalah diare. Diare ditandai dengan meningkatnya frekuensi BAB yang disertai dengan feses yang cair.

Diare sendiri dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk virus, bakteri atau parasit, efek samping pengobatan, intoleransi laktosa, dan lain-lain. Durasi dari gangguan saluran cerna ini beragam, beberapa hari hingga berminggu-minggu, apalagi jika diare mengindikasikan kondisi kesehatan lain.

Gejala dari diare dapat sangat mengganggu aktivitas sehingga dibutuhkan obat yang dapat bekerja cepat dan efektif. Serahkan masalah diare Anda pada Entrostop agar gejala seperti kembung, nyeri perut, hingga sering BAB dapat cepat berkurang.

Untuk membantu mengatasinya, Anda dapat mengonsumsi obat diare yang memiliki kemampuan menyerap racun, toksin atau bakteri, dan virus sekaligus mengurangi frekuensi BAB seperti Entrostop

Penyakit peradangan saluran cerna (IBD)

Penyakit ini sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu penyakit Crohn dan Ulcerative colitis. Keduanya disebabkan karena terjadi masalah pada sistem imun atau daya tahan tubuh. 

Inflammatory Bowel Disease (IBD) terjadi ketika sistem imun menganggap makanan atau senyawa lain dalam saluran cerna sebagai ancaman. Masalah ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau alergi.

IBD merupakan penyakit keturunan dan biasa memiliki gejala seperti diare, nyeri perut, anemia, dan menurunnya berat badan.

Penyebab sering buang air besar dapat meliputi gangguan kesehatan ringan hingga berat seperti yang sudah dijelaskan di atas. Sebagai langkah pertama, Anda dapat mengonsumsi obat seperti Entrostop untuk membantu menghentikan gejala. 

Di sisi lain, jika frekuensi buang air besar tak kunjung membaik atau kembali normal, segera hubungi dokter untuk mendapat diagnosis dan perawatan yang sesuai dengan kondisi Anda.

 

Referensi:

Holt, J. (2016, March 24). Potty Talk: What is a Normal Bowel Movement – And Why Is This Important For Your Health? Retrieved July 27, 2020, from intermountainhealthcare.org website: https://intermountainhealthcare.org/blogs/topics/live-well/2016/03/normal-bowel-movement-why-it-is-important-for-your-health/

Mayo Clinic. (2018). Frequent bowel movements Causes. Retrieved October 17, 2019, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/frequent-bowel-movements/basics/causes/sym-20050720

Cleveland Clinic. (2018). Frequent Bowel Movements: Causes, Diagnosis & Treatment. Retrieved July 27, 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17791-frequent-bowel-movements#:~:text=frequent%20bowel%20movements%3F-

Mayo Clinic. (2016). Diarrhea – Symptoms and causes. Retrieved July 27, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241

Cleveland Clinic. (2016). IBD, Ulcerative Colitis, Crohn’s Disease, Symptoms, Treatment. Retrieved July 27, 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15587-inflammatory-bowel-disease-overview