Perut Sakit Setelah Makan Pedas? Ini Sebab dan Cara Mengatasinya!

Oleh Manda

Perut Sakit Setelah Makan Pedas? Ini Sebab dan Cara Mengatasinya!

Cabai ibarat jadi teman setia untuk memberikan sensasi yang lebih menggigit pada rasa makanan. Sebagian orang suka menambahkan sambal atau cabai yang banyak ke dalam hidangan kesukaannya. Saking asyiknya makan, terkadang kita lupa dampaknya yang bisa menimbulkan perut sakit setelah konsumsi makanan pedas.

Penyebab dan alasan perut sakit setelah makan pedas

Penyebab utama sakit perut adalah zat capsaicin yang terkandung di dalam makanan pedas. Jika dikonsumsi berlebihan, bisa mengakibatkan masalah pada sistem pencernaan. Mulai dari sakit lambung hingga diare.

Sakit perut yang dirasakan terjadi karena capsaicin mengiritasi saluran pencernaan dan lambung. Menurut studi Capsaicin, Nociception and Pain, senyawa ini juga mendorong saraf penerima Transient Potential Vanilloid 1 Receptors (TRPV1) untuk mengirimkan sinyal ke otak saat suhu dalam tubuh sedang panas karena konsumsi capsaicin.

Selanjutnya, iritasi yang terjadi pada usus kecil membuat usus kecil bekerja lebih cepat dalam mengantarkan makanan yang dicerna ke usus besar. Usus besar ini juga bekerja lebih cepat sebagai reaksi pertahanan akibat banyaknya reseptor TRPV1 yang aktif. 

Mengingat usus besar bekerja lebih cepat, usus besar tidak menyerap air dengan baik dan membuat Anda bolak-balik ke toilet karena diare. Jika hal ini terus berlangsung, tubuh dapat mengalami dehidrasi akibat diare dan juga dapat memicu iritasi dinding saluran pencernaan, seperti lambung.

Dampaknya adalah GERD, yakni pelemahan otot esofagus (kerongkongan) bagian bawah yang menahan makanan maupun zat asam di lambung agar tidak naik lagi ke kerongkongan. Hal tersebut biasanya menimbulkan sensasi terbakar pada area dada, karena asam dan makanan naik ke atas. Bila sudah begitu, lebih baik atasi dengan obat maag sesuai gejala.

Tak hanya itu saja, capsaicin juga menstimulasi sensitivitas pada usus yang berdampak pada kondisi Irritable Bowel Syndrome (IBS). IBS merupakan gangguan yang berdampak pada usus besar. Gejalanya berupa sakit perut, gas, diare, perut kembung, ataupun sembelit. Iritasi yang terjadi membuat Anda sakit perut setelah makan makanan pedas.

Sebuah penelitian dalam World Journal of Gastroenterology, mengatakan konsumsi makanan pedas berhubungan erat pada IBS, terutama di kalangan wanita. IBS juga bisa disertai diare. 

Peneliti menyarankan untuk mengurangi asupan makanan pedas untuk mengelola kekambuhan IBS. Maka itu, tak jarang orang yang mengonsumsi makanan pedas dapat mengalami diare, sebagai bagian dari gejala IBS. Gejala diare dapat diketahui sebagai berikut:

  • Sakit perut
  • Frekuensi BAB lebih dari 3 kali
  • Tekstur feses cair (lebih dari 70 persen air)
  • Demam
  • Kembung
  • Mual
  • Selalu ada rasa ingin BAB

Sakit perut dan diare karena asupan pedas tentunya tidak nyaman. Tenang, ada cara untuk mengantisipasi dan mengatasi sakit perut setelah makan makanan pedas.

Mengatasi perut perih atau diare akibat makan pedas

Bila Anda terlanjur mengalami sakit perut dan diare setelah makan makanan pedas, segera atasi. Anda bisa meletakkan kompres berisi air panas, biasanya berbentuk kantong karet (hot water bag), pada bagian perut yang sakit. Namun, Anda juga dapat melakukan hal-hal dibawah ini:

Makanan dan minuman untuk meredakan mencret

Untuk sementara, Anda perlu melakukan pantangan saat diare, seperti menghindari makanan pedas, makanan berlemak, asupan tinggi gula, susu, atau makanan berminyak.

Untuk meredakan gejala diare, Anda juga bisa mengonsumsi asupan yang mudah dicerna seperti sup atau kaldu ayam, apel yang dihaluskan, air kelapa, roti, nasi, dan lainnya. 

Karena diare bisa saja berdampak pada dehidrasi, jangan lupa untuk minum banyak air, seperti air kelapa, oralit (larutan gula dan garam), dan air mineral. Pastikan cairan tubuh cukup, karena diare membuang banyak cairan tubuh dalam waktu singkat.

Berikut beberapa makanan maupun minuman yang bisa dikonsumsi untuk meredakan mencret atau diare akibat makanan pedas:

  • Pisang, memadatkan feses yang cair karena diare
  • Saus atau bubur apel, menyamankan perut dengan mengurangi frekuensi BAB
  • Roti panggang, mengurangi gejala umum diare
  • Air kelapa, untuk menggantikan cairan yang hilang dan bantu cegah dehidrasi
  • Prebiotik, seperti yoghurt untuk bantu menyeimbangkan bakteri baik di dalam usus
  • Sup ayam, menghangatkan perut dan membantu jaga cairan elektrolit tubuh

Obat antidiare

Di samping itu, Anda juga bisa mengonsumsi obat antidiare untuk cepat mengatasi diare. Salah satunya, dengan mengonsumsi Entrostop, yang memiliki kandungan aktif attapulgite dan pectin terbukti efektif meredakan gejala diare. 

Gabungan kandungan tersebut berfungsi sebagai penyerap racun penyebab diare, membuat tekstur feses kembali padat, dan selanjutnya dibuang dari tubuh ketika Anda buang air besar. Mengonsumsi Entrostop dan cairan rehidrasi oral juga membantu Anda meminimalisasi risiko tubuh kehilangan banyak cairan (dehidrasi) akibat diare.

Singkatnya, mengonsumsi makanan pedas bukanlah hal yang tak boleh dilakukan. Akan tetapi, harus lebih bijak dalam mengonsumsinya supaya tidak perlu mencari cara mengobati perut perih akibat makan pedas.

Dokter Edwin McDonald IV, melalui UChicago Medicine, menyatakan terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas dengan takaran yang tidak wajar dapat berdampak buruk pada kesehatan pencernaan. Contoh yang ia berikan adalah mengonsumsi makanan pedas lebih dari 10 kali dalam seminggu dapat meningkatkan risiko terkena IBS.

Kemudian, mengutip dari Harvard Health Publishing, mencari tahu makanan atau minuman pemicu diare dapat menjadi langkah pencegahan yang tepat. Jadi, jika Anda sering mengalami diare akibat makanan pedas, mungkin lebih baik untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Begitu pula jika Anda penderita penyakit radang usus, IBS, atau radang lambung.

Akibat mengonsumsi makanan pedas berlebihan

Reaksi setiap orang ketika mengonsumsi makanan pedas berbeda-beda. Namun, sensasi panas atau terbakar pasti akan dirasakan semua orang. Bahkan, beberapa orang sama sekali tidak memiliki toleransi dan memilih untuk menghindari jenis hidangan atau olahan, jajanan atau camilan yang memiliki rasa pedas.

Melukai dinding perut (Gastritis)

Dampak yang mungkin cukup sering dirasakan kebanyakan orang adalah gastritis. Kondisi ini terjadi ketika dinding atau lapisan perut mengalami peradangan dan membengkak, salah satu penyebabnya adalah akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas.

Gejala yang timbul ketika Anda mengalami gastritis antara lain:

  • Nyeri atau sakit perut
  • Cegukan
  • Pendarahan di dalam perut
  • Mual dan muntah
  • Merasa kenyang atau panas dalam perut
  • Hilang nafsu makan

Gejala dari gastritis memiliki kemiripan dengan kondisi kesehatan lain sehingga Anda disarankan untuk mendapat diagnosis dari dokter.

Jika dibiarkan, gastritis akibat makanan pedas dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Peptic ulcer, luka di lambung yang memicu nyeri di saluran pencernaan atas
  • Polip lambung, munculnya benjolan di dinding perut dalam
  • Tumor perut, baik yang berjenis kanker atau tidak

Pada kebanyakan kasus, gastritis memerlukan perawatan dengan cara pemberian antasida atau obat lain untuk mengurangi cairan asam dalam perut. Hal ini bertujuan untuk membantu meredakan gejala yang dirasakan dan mempercepat proses pemulihan dinding perut yang terluka.

Memicu diare

Apabila cukup sering mengidap diare, coba perhatikan apakah Anda termasuk penikmat makanan pedas atau tidak. Makanan yang mengandung kapsaisin termasuk salah satu penyebab diare yang tidak jarang diabaikan orang.

Diare yang terjadi akibat sering makan pedas bisa jadi merupakan bagian dari gejala IBS (Irritable Bowel Syndrome) atau sindrom iritasi usus besar. IBS merupakan kondisi pada saluran cerna yang ditandai dengan gejala-gejala seperti:

Sebuah studi yang diterbitkan World Journal of Gastroenterology menganalisis hubungan antara makanan pedas dan IBS. Mereka menemukan bahwa orang yang mengonsumsi sumber makanan pedas (seperti serbuk cabai, kari, jahe, dan kunyit) lebih dari 10 kali dalam seminggu, lebih berisiko mengidap IBS, dibandingkan dengan yang tidak pernah konsumsi sumber makanan tersebut.

Apabila Anda didiagnosis kondisi ini, biasanya pantangan dari dokter adalah mengonsumsi makanan pedas.

Di sisi lain, selama diare masih berlangsung, Anda dapat melakukan upaya untuk meredakannya dengan cara minum obat diare. Pilih obat diare yang dapat membantu mengurangi frekuensi BAB dan mengembalikan tekstur feses yang cair seperti Entrostop.

Dapat meningkatkan risiko kanker lambung

Meski kemungkinannya kecil, risiko masalah perut akibat makanan pedas yang tidak boleh dianggap sepele adalah kanker lambung. Pertimbangan ini muncul setelah sebuah studi dari Chinese Medical Journal memeriksa sebanyak hampir 40 penelitian dan menemukan bahwa mengonsumsi makanan pedas dalam jumlah yang besar berhubungan dengan meningkatkan risiko kanker lambung.

Dampak kesehatan dari makanan pedas mungkin sudah tidak asing lagi didengar masyarakat Indonesia mengingat tingginya konsumsi jenis hidangan ini. Namun, Anda tetap tidak boleh menganggap sepele setiap gangguan kesehatan yang muncul.

Asal jangan berlebihan, makanan pedas bermanfaat baik bagi tubuh

Lantas, haruskah menghindari makanan pedas? Tidak juga, kok. Anda tetap bisa mengonsumsi makanan pedas, tetapi jangan berlebihan. Misalnya, jangan sampai terlihat makanan berubah warna merah karena tambahan cabai atau sambal. Cukup seperlunya saja. 

Capsaicin yang dikonsumsi dalam takaran wajar pun dapat memberi manfaat bagi tubuh. Sebuah riset Open Heart yang dilakukan pada hewan, melihat potensi capsaicin dalam dukung kesehatan tubuh. Disebutkan bahwa capsaicin memiliki efek gastroprotektif atau melindungi lambung, maupun mendukung metabolisme tubuh.

Kabar baik dari penelitian lainnya dalam jurnal Appetite, capsaicin juga membantu Anda yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Capsaicin mendukung pembakaran energi sekitar 50 kkal per hari dan mengatur selera makan seseorang. Peneliti juga mengatakan mendukung penurunan berat badan dalam jangka waktu 1-2 tahun.

Zat capsaicin memiliki potensi manfaat yang baik bagi tubuh. Meskipun begitu, selalu perhatikan konsumsi makanan pedas setiap harinya. Segera kurangi konsumsinya jika terjadi masalah pencernaan dan lakukan pengobatan yang tepat misalnya dengan minum obat ketika mengalami diare.

Diare membuat Anda tak bisa berkutik dan melakukan kegiatan apapun. Fokusnya hanya tertuju pada perut yang sakit dan ingin segera mengatasinya. Agar gejala perut perih atau diare cepat reda setelah mengonsumsi makanan pedas, Anda bisa mencoba beberapa cara di atas.

Temui dokter jika masalah pencernaan tidak kunjung membaik. Karena bisa saja gejala yang Anda rasakan merupakan pertanda dari kondisi medis yang lebih serius.

 

Referensi:

Is Your Favorite Spicy Food Damaging Your Stomach? | | Keck Medicine of USC. (2019). Retrieved 3 August 2020

Diarrhea – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 3 August 2020

Irritable bowel syndrome – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 3 August 2020

A hot topic: Are spicy foods healthy or dangerous? – UChicago Medicine. (2018). Retrieved 3 August 2020

Whiting, S., Derbyshire, E., & Tiwari, B. (2012). Capsaicinoids and capsinoids. A potential role for weight management? A systematic review of the evidence. Appetite, 59(2), 341-348. doi: 10.1016/j.appet.2012.05.015

Esmaillzadeh, A. (2013). Consumption of spicy foods and the prevalence of irritable bowel syndrome. World Journal Of Gastroenterology, 19(38), 6465. doi: 10.3748/wjg.v19.i38.6465

McCarty, M., DiNicolantonio, J., & O’Keefe, J. (2015). Capsaicin may have important potential for promoting vascular and metabolic health: Table 1. Open Heart, 2(1), e000262. doi: 10.1136/openhrt-2015-000262

Diarrhea and Diet | Gastrointestinal Society. (2020). Retrieved 3 August 2020

Eating Hints to Help with Diarrhea (2020). Retrieved 3 August 2020

Abdominal pain in adults. (2020). Retrieved 3 August 2020

Capsaicin: When the “Chili” Is Too Hot. (2014, June 19). Poison Control. Retrieved July 30, 2020

Frias, B., & Merighi, A. (2016). Capsaicin, Nociception and pain. Molecules, 21(6), 797

Gastritis. (n.d.). Johns Hopkins Medicine, based in Baltimore, Maryland. Retrieved July 30, 2020

Harvard Health Publishing. (2019, December 17). Is something in your diet causing diarrhea? Harvard Health. Retrieved July 30, 2020

Hot peppers: Muy Caliente. (n.d.). American Chemical Society. Retrieved July 30, 2020

A hot topic: Are spicy foods healthy or dangerous? (2018, September 23). Hospitals, Clinics & Doctors in IL – UChicago Medicine. Retrieved July 30, 2020

Is your favorite spicy food damaging your stomach? (2019, May 7). Keck Medicine of USC. Retrieved July 30, 2020

Coconut water: Healthy drink or marketing scam?. (2021). Retrieved 9 February 2021

Mom’s Advice Is Still the Best for Treating Diarrhea. (2019). Retrieved 9 February 2021

Keck Medicine of USC. (2019, April 26). Is Your Favorite Spicy Food Damaging Your Stomach? Retrieved August 2, 2020

John Hopkins Medicine. (2019). Gastritis. Retrieved August 3, 2020

Chen, Y.-H., Zou, X.-N., Zheng, T.-Z., Zhou, Q., Qiu, H., Chen, Y.-L., … Zhao, P. (2017). High Spicy Food Intake and Risk of Cancer: A Meta-analysis of Case–control Studies. Chinese Medical Journal, 130(18), 2241–2250.

Esmaillzadeh, A. (2013). Consumption of spicy foods and the prevalence of irritable bowel syndrome. World Journal of Gastroenterology, 19(38), 6465. 

Mayo Clinic. (2018). Irritable bowel syndrome – Symptoms and causes. Retrieved August 3, 2020

The Campanile. (2020, March). Irritable bowel syndrome – Symptoms and causes. Retrieved August 3, 2020