Diare Pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya | Diarepedia

Oleh Karinta

Diare Pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya | Diarepedia

Normalnya, bayi memiliki tekstur feses yang lebih lembut dibandingkan dengan orang dewasa. Namun, ada kalanya, Anda mungkin melihat tekstur feses bayi lebih cair bahkan dalam jumlah yang banyak. Hal ini bisa menjadi salah satu tanda dan gejala diare pada bayi.

Supaya tidak semakin parah, kenali penyebab terjadinya diare pada bayi beserta berbagai gejala yang ditunjukkannya.

Apa penyebab diare pada bayi?

Diare adalah kondisi buang air besar (BAB) dalam frekuensi yang sering disertai tekstur yang cair. Diare dapat dialami oleh siapa saja, termasuk bayi.

Bukan hanya di orang dewasa, diare yang dialami bayi sebaiknya segera dikenali dan diobati. Ini karena bayi sangat berisiko mengalami dehidrasi akibat diare yang terjadi selama beberapa hari.

Anda bisa memulainya dengan memahami penyebab diare terlebih dahulu. Berikut beberapa penyebab diare pada bayi yang sebaiknya diketahui:

1. Asupan makanan ibu

Bayi yang masih mendapatkan air susu ibu (ASI) rentan mengalami diare karena makanan yang dimakan ibu. Ini karena makanan yang Anda makan dapat mengalir masuk ke dalam ASI sehingga memengaruhi sistem pencernaan bayi.

Berbagai jenis makanan yang paling berpotensi memicu diare pada bayi meliputi cokelat, makanan pedas, serta kafein. Itulah mengapa ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk sangat memerhatikan sumber makanan harian.

Sebab tidak menutup kemungkinan bayi berisiko mengalami diare ketika ibu makan makanan tertentu.

2. Alergi susu formula

Jika bayi tidak lagi mendapatkan ASI, pemberian susu formula bisa menjadi alasan lain ia mengalami diare. Diare akibat susu formula ini terjadi karena bayi mengalami alergi atau tidak cocok dengan jenis formula tertentu.

Selain itu, diare yang disebabkan karena susu formula bisa disebabkan karena cara pemberian susu kurang bersih, mulai dari cara penyajian, hingga botol dan kemungkinan susu formula yang terkontaminasi.

Jadi, sebaiknya perhatikan kandungan tertentu di dalam susu formula dan cara penyajian yang bersih sebelum memberikannya kepada bayi.

4. Kontaminasi virus dan bakteri

Penyebab lain dari diare pada bayi yakni adanya kontaminasi virus, bakteri, kuman, maupun organisme lainnya pada makanan, minuman, maupun mainan.

Kontaminasi dari berbagai organisme tersebut bisa masuk ke dalam tubuh bayi, menimbulkan infeksi, hingga menyebabkan diare.

5. Mulai makan makanan padat

Perubahan dalam pola dan asupan makanan bayi tak jarang menyebabkan pergerakan usus bayi juga ikut berubah. Alhasil, bayi kemudian mengalami diare karena masih dalam tahap beradaptasi dengan makanan padat.

Beberapa jenis makanan yang biasanya menyebabkan bayi mengalami diare yakni telur, gluten, kacang-kacangan, hingga produk olahan susu seperti keju dan yoghurt.

Baca Juga: Kenali Gejala Dehidrasi pada Anak yang Diare

Apa saja gejala diare pada bayi?

Setelah tahu penyebabnya, perhatikan juga perubahan yang muncul saat bayi mengalami diare. Berbagai gejala diare pada bayi, yaitu:

1. Perubahan pada feses bayi saat diare

Feses bayi yang masih menyusu ASI dan sudah minum susu formula biasanya memiliki ciri khasnya masing-masing.

Berdasarkan Healthy Children, bayi yang minum ASI umumnya memiliki feses berwarna kuning muda dengan tekstur yang lunak cenderung cair.

Anda juga mungkin melihat adanya potongan kecil menyerupai biji di dalam feses bayi yang menyusu ASI.

Sementara feses bayi yang menyusu susu formula berwarna kuning agak kecokelatan dengan tekstur yang sedikit lebih tebal.

Begitu pula ketika bayi minum ASI dan susu formula sekaligus, ciri khas fesesnya merupakan gabungan dari kedua karakteristik tersebut.

Namun, lain halnya saat bayi mengalami diare. Gejala diare yang dialami bayi mudah terlihat karena biasanya menunjukkan gejala seperti feses yang mengandung darah dan lendir.

Selain itu, feses bayi yang mengalami diare juga cenderung lebih cair ketimbang biasanya, berwarna lebih gelap, dan berbau tidak sedap yang abnormal.

2. Frekuensi BAB bayi berubah

Rutin buang air besar (BAB) memang baik asalkan feses dalam keadaan normal. Lain halnya jika feses bayi berwarna yang gelap, bertekstur sangat cair, berbau tidak biasa, dan mengandung darah serta lendir.

Bila ciri khas feses tersebut terus berlangsung selama tiga hari atau lebih, tandanya diare memang terjadi pada bayi.

3. Gejala lainnya

Selain dari ciri khas feses dan frekuensi buang air besar (BAB) bayi, gejala diare juga dapat terlihat saat ia mengalami dehidrasi dan demam.

Mudahnya, Anda akan melihat bayi mengeluhkan sakit perut sebagai akibat dari diare yang dialaminya. Supaya gejala diare si kecil cepat mereda, Anda bisa memberikan obat diare yang aman.

Baca Juga: Pengertian dan Gejala Diare yang Perlu Diketahui

Bagaimana cara mengatasi diare pada bayi?

Jika salah satu atau beberapa gejala-gejala di atas muncul, lakukan cara-cara berikut untuk meredakan diare yang dialami bayi.

Memberikan cairan ekstra untuk cegah dehidrasi

Saat diare, siapa pun termasuk bayi rentan mengalami dehidrasi. Oleh sebab itu, pastikan Anda memberikan si kecil asupan cairan ekstra untuk mencegah dehidrasi. Misalnya, tambahan ASI atau susu formula (untuk bayi 6 bulan) dan oralit.

Meredakan diare dengan obat diare

Obat diare merupakan pilihan tepat untuk mengatasi diare yang tiba-tiba menyerang si kecil. Namun, perlu diingat bahwa obat diare, seperti Entrostop Herbal Anak hanya boleh dikonsumsi oleh anak usia 2 tahun ke atas. 

Bagi bayi di bawah usia 2 tahun, dapat diberikan oralit sesuai dosis yang direkomendasikan berikut ini.

  • Usia <1 tahun tanpa gejala dehidrasi: ½ gelas oralit (100 mL) setiap buang air besar
  • Usia <1 tahun dengan gejala dehidrasi: 1 ½ gelas oralit (300 mL) pada 3 jam pertama, dan ½ gelas oralit (100 mL) setiap buang air besar

Menyajikan menu makanan yang tepat

Apabila bayi sudah mulai mengonsumsi MPASI, pastikan Anda tidak memberikan buah-buahan karena buah mengandung gula yang dapat memperparah diare pada si kecil. 

Berikan makanan lebih sering, yaitu setiap 3 hingga 4 jam sekali dengan porsi kecil agar asupan nutrisi si kecil yang mengalami diare tetap terpenuhi.

Diare merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Jika diare tak kunjung sembuh dalam waktu 7-10 hari, jangan ragu untuk memeriksakan si kecil ke dokter.

 

Referensi

Appearance, Cause, and Treatment for Baby Diarrhea. Retrieved 28 April 2020.

Diarrhea in Babies. Retrieved 28 April 2020.

Diarrhea in Babies. Retrieved 28 April 2020.

Chronic Infants Diarrhea for Infants and Young Children. Retrieved 28 April 2020.

Diarrhea. Retrieved 28 April 2020.

Larutan Rehidrasi Oral. Pionas.pom.go.id. (2021). Retrieved 19 March 2021.