Langkah Pemeriksaan untuk Diagnosa Diare Kronis

Oleh Fidhia

Langkah Pemeriksaan untuk Diagnosa Diare Kronis

Diare merupakan gangguan pencernaan yang paling umum dialami. Kondisi ini ditandai dengan buang air yang dilakukan secara terus-menerus dengan bentuk feses cair dan lembek. Normalnya, diare bisa sembuh dalam waktu 1-3 hari. Nah, Anda perlu segera ke dokter jika diare berlangsung selama berminggu-minggu. Ini bisa mengarah pada gejala diare kronis yang merupakan wujud dari masalah pencernaan serius. Guna menentukan pengobatan diare yang tepat, dokter perlu melakukan diagnosa sehingga menemukan penyebab utama dari diare kronis yang Anda alami.

Kapan Anda perlu memeriksakan diri ke dokter?

Diare dapat dikatakan memasuki tahap kronis ketika gejala buang-buang air besar telah berlangsung lebih dari 2-4 minggu atau lebih.

Jika Anda mengalami gejala diare kronis, sebaiknya Anda menyegerakan diri untuk mendapatkan diagnosa dari dokter. Selain buang aing besar secara menerus, gejala diare kronis juga meliputi:

  • feses yang lembek dan berair
  • terdapat lendir bercampur darah pada feses
  • kram perut
  • perut bengkak
  • mual
  • muntah

Diare dalam jangka panjang dapat berakibat fatal karena bisa menyebabkan dehidrasi berat, penurunan berat badan secara drastis, dan malabsorpsi jika diare dialami anak-anak atau bayi. Berbagai gangguan ini selanjutnya dapat mengarah pada kondisi malnutrisi yang menghambat proses tumbuh kembang anak.

Risiko dari diare kronis bisa diketahui dari hasil diagnosa yang dilakukan dokter.

Tahapan diagnosa untuk diare kronis

Diare kronis dapat disebabkan oleh infeksi kuman penyakit atau peradangan yang terjadi di sistem pencernaan secara jangka panjang.

Studi dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology menyebutkan beberapa kondisi dan penyakit yang selama ini diketahui sebagai penyebab dari diare kronis, yaitu:

  • penyakit radang usus
  • sindrom iritasi usus
  • kolitis ulserativa
  • penyakit Crohn
  • efek samping penggunaan obat pereda nyeri (non steroid anti-inflamasi NSAID)
  • sindrom iritasi usus besar
  • konsumsi makanan yang mengandung sorbitol dan fruktosa

Mengetahui penyebab dari diare kronis membantu dokter menentukan jenis pengobatan atau obat diare yang tepat. Akan tetapi, dokter perlu melakukan diagnosa terlebih dahulu terhadap kondisi pasien. Apa saja langkah pemeriksaan yang dilakukan dokter untuk mendiagnosa penyakit ini?

1. Anamnesa

Pada langkah diagnosa diare yang pertama, dokter akan melakukan prosedur sederhana seperti menanyakan dan meneliti riwayat medis Anda.

Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan dokter selama melakukan diagnosa diare di tahap awal adalah

  • Apa yang Anda rasakan?
  • Seberapa sering Anda pergi ke toilet?
  • Makanan apa yang Anda konsumsi sebelum mengalami diare?
  • Apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu akhir-akhir ini?
  • Adakah gejala lain yang Anda alami selama mengalami diare kronis?

Dokter juga akan mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan berapa lama Anda merasakan gejala, seperti apa kondisi feses, dan apakah Anda memiliki alergi atau sensitif terhadap jenis makanan tertentu.

2. Pemeriksaan fisik

Selama pemeriksaan fisik dokter akan mengukur tekanan darah, mendengarkan suara di dalam perut dengan stetoskop, dan mendeteksi adanya tanda-tanda dehidrasi.

3. Tes darah

Apabila diagnosa dari pemeriksaan fisik mengarah pada kondisi diare kronis, selanjutnya dokter akan meminta Anda menjalani prosedur tes laboratorium.

Pengambilan sampel darah kemungkinan akan dilakukan untuk mendeteksi terjadinya infeksi,  tanda-tanda anemia, dehidrasi, atau mengecek kadar elektrolit tubuh. diagnosa melalui tes darah  membantu menunjukkan penyakit atau kondisi yang menyebabkan diare kronis.

4. Pemeriksaan feses

Mendeteksi adanya infeksi bakteri juga bisa dilakukan melalui pemeriksaan feses (stool test). Terdapat beberapa jenis uji feses untuk diagnosa diare. Kultur feses dilakukan untuk mengetahui keberadaan dan jumlah bakteri yang umum menyerang sistem pencernaan seperti Campylobacter, Salmonella, dan Shigella.

Sementara panel feses dilakukan untuk mengecek secara spesifik kuman penyakit apa yang menyebabkan diare kronis. Hasil dari diagnosa ini bisa diperoleh dengan lebih cepat dari kultur feses.

Jenis diagnosa feses terakhir adalah uji racun pada feses yang secara spesifik mendeteksi keberadaan bakteri yang memang menjadi penyebab utama diare kronis, yaitu bakteri Clostridium difficile. Bakteri ini memang normalnya terdapat dalam perut. Namun, pertumbuhannya yang tidak terkontrol bisa menyebabkan diare kronis.

5. Kolonoskopi

Untuk membantu memastikan diagnosa diare dari uji laboratorium sebelumnya, dokter juga bisa menggunakan sigmoidoskopi dan kolonoskopi. Pemeriksaan dilakukan dengan cara memasukan tabung tipis elastis ke dalam anus untuk melihat bagian dalam usus besar.

Alat tes ini dilengkapi dengan perangkat untuk mengambil sampel kecil jaringan (biopsi) dari usus besar. Sedangkan diagnosa kolonoskopi untuk diare kronis memungkinkan dokter untuk melihat seluruh bagian usus besar.

Penanganan pertama diare kronis bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat diare Entrostop untuk mencegah penyakit bertambah parah dan komplikasi berbahaya lainnya.

 

Sumber:

Diarrhea – diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/diagnosa-treatment/drc-20352246

Information, H., Diseases, D., Diarrhea, D., Center, T., & Health, N. (2020). diagnosis of Diarrhea | NIDDK. Retrieved 28 April 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/diarrhea/diagnosa

Chronic Diarrhea: Treatment Options, Symptoms, and Causes. (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.healthline.com/health/diarrhea/chronic-diarrhea

How Diarrhea Is Diagnosed. (2020). Retrieved 28 April 2020, from https://www.verywellhealth.com/diarrhea-diagnosis-3156890

Schiller, L. R., Pardi, D. S., & Sellin, J. H. (2017). Chronic diarrhea: diagnosis and management. Clinical Gastroenterology and Hepatology, 15(2), 182-193.