Obat Diare untuk Anak sebagai Pertolongan Pertama

Oleh Roby Rizki

Obat Diare untuk Anak sebagai Pertolongan Pertama

Sulit untuk memprediksi kapan sebuah penyakit akan menyerang si kecil. Dari berbagai penyakit yang ada, diare merupakan salah satu kondisi kesehatan yang cukup sering menyerang anak. Saat anak mengalami diare, Anda perlu segera mencari jalan keluar agar diare dapat segera diatasi. Lalu, apa saja obat diare untuk anak yang perlu diketahui?

Gejala diare pada anak

Diare pada anak maupun orang dewasa biasanya ditandai dengan kondisi buang air besar yang berbeda dari normal disertai feses yang lebih cair dan tidak berbentuk.

Apa saja tanda dan gejala diare pada anak? Berikut beberapa di antaranya:

  • Buang air besar sering (lebih dari 3 kali sehari) dan cair (mengandung air lebih dari 70%)
  • Nyeri atau kram pada perut
  • Demam
  • Hilang nafsu makan
  • Berat badan berkurang
  • Dehidrasi

Diare dapat menyebabkan anak kehilangan banyak cairan, garam, dan mineral. Oleh karena itu, komplikasi dari diare yang umum ditemui adalah dehidrasi. Anda perlu segera mengenali gejala dehidrasi pada anak yang diare agar tidak terjadi komplikasi serius.

Saat anak mengalami diare, obat diare anak pertama adalah air karena penting untuk tubuh tetap memiliki kadar cairan dan nutrisi yang cukup.

Baca juga: Cara Efektif Mengobati Diare pada Bayi Usia 6-24 Bulan

Obat diare rumahan untuk anak 

Diare merupakan cara tubuh membersihkan diri dari kuman, dan paling lama berlangsung selama seminggu. Agar si Kecil tidak mengalami komplikasi atau gangguan kondisi kesehatan lainnya, Anda perlu cermat dalam memilih obat yang tepat untuk redakan gejala.

Berikut obat diare untuk anak sekaligus perawatan saat diare menyerang.

1. Memberi si Kecil asupan cairan

Diare dapat terjadi karena disebabkan infeksi dari virus, bakteri, dan parasit. Virus merupakan penyebab diare yang paling sering terjadi pada anak.

Untuk obat diare anak yang disebabkan karena virus, mencegah si Kecil kehilangan banyak cairan dalam tubuhnya merupakan tindakan yang perlu Anda lakukan. Berikan tambahan ASI (jika anak masih menyusui) atau oralit kepada si Kecil.

Air putih saja belum cukup untuk menggantikan garam, potasium, dan nutrisi lain dalam tubuh. Anda dapat memberikan si Kecil jus buah atau sup hangat sebagai penambah cairan. Disarankan untuk berkonsultasi pada dokter mengenai kebutuhan cairan yang dibutuhkan anak dan cara untuk memenuhinya.

2. Pemberian larutan gula dan garam

Larutan gula dan garam juga membantu mengembalikan cairan di dalam tubuh. Larutan ini dapat menjadi obat rumahan untuk atasi diare anak. 

Cairan ini dapat mengandung campuran dari elektrolit dan karbohidrat. Anda bisa mencampurkan satu sendok teh gula dan satu sendok teh garam ke dalam satu gelas air lalu berikan kepada si Kecil untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

3. Cemilan sumber probiotik

Probiotik adalah bakteri baik yang dapat menyehatkan sistem pencernaan. Maka itu, untuk menyeimbangkan bakteri di dalam pencernaan, ada baiknya anak diberikan cemilan sumber probiotik.

Sumber probiotik yang dapat dikonsumsi antara lain:

– Yoghurt

– Tempe

– Keju

Sesekali Anda bisa menyelingi pemberian sumber probiotik di atas ketika si Kecil mengalami diare ataupun dalam keadaan sehat. Dengan begitu, pencernaan si Kecil bisa pulih dan tetap terjaga.

4. Oralit

Oralit bisa digunakan sebagai cairan untuk mengembalikan kadar air dalam tubuh si Kecil. Kandungan elektrolit di dalamnya membuat oralit lebih cepat diserap oleh tubuh dibandingkan dengan air putih. Oralit bisa diperoleh dengan mudah di apotik.

Konsumsi oralit berdasar usia anak dapat dilihat sebagai berikut:

  • Bayi usia di bawah 6 bulan, 30ml – 90 ml setiap jam
  • Anak usia 2 bulan sampai 2 tahun, 90 – 125 ml setiap jam
  • Anak di atas usia 2 tahun, 125 ml – 250 ml setiap jam

Anda bisa menyesuaikan cara minum oralit di atas sesuai dengan usia anak. Konsumsi oralit juga dapat dibarengi dengan obat diare anak.

 

5. Daun jambu biji

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada hewan, daun jambu biji memiliki potensi untuk meredakan diare. Anda bisa menyeduh daun jambu biji dengan air hangat sebagai obat alami untuk mengatasi anak diare. 

6. Kunyit

Bahan dapur yang satu ini mengandung senyawa kurkumin yang membantu mengatasi dan mengurangi gejala diare yang mengganggu si Kecil. Manfaat lain kunyit, di antaranya:

  • mengurangi peradangan
  • meredam rasa mual
  • meredakan nyeri pada perut
  • meningkatkan imunitas tubuh

Ibu bisa menyeduh air hangat dengan kunyit untuk mendukung pemulihan si kecil dari diare. Selain dengan menyeduhnya, Ibu bisa mencari obat antidiare yang mengandung ekstrak kunyit untuk atasi diare si kecil.

7. Daun teh

Daun teh, terutama teh hitam, dapat menjadi obat herbal untuk anak yang mengalami diare. Seduhan daun teh hangat dapat menyamankan nyeri perut ketika si Kecil diare. 

Daun teh juga juga membantu redakan gejala diare, termasuk membantu memperbaiki frekuensi BAB dan tekstur feses anak.

8. Jahe

Jahe dapat dijadikan minuman hangat yang menenangkan perut. Jahe yang diseduh dapat menjadi obat diare untuk anak. Jahe memiliki berbagai manfaat positif, seperti:

  • menghangatkan perut
  • bersifat antiradang dan antibakteri
  • analgesik
  • antioksidan untuk tangkal radikal bebas

Anda bisa menyediakan jahe untuk minuman hangat yang bisa dikonsumsi anak, sehingga gejala diarenya pun mereda.

9. Entrostop Herbal untuk anak

Menyimpan obat diare bisa menjadi salah satu bentuk pertolongan pertama. Entrostop Herbal Anak bisa menjadi merupakan piliha yang aman dan tentunya efektif dalam meredakan gejala diare.

Entrostop Herbal Anak mengandung ekstrak daun jambu biji, ekstrak daun teh, ekstrak jahe, serta ekstrak kunyit. Keempat kandungan obat herbal ini bekerja sama meredakan gejala mulas, mual, dan kembung pada anak diare.

Entrostop Herbal Anak tersedia dalam bentuk sirup, rasanya manis sehingga disukai oleh anak-anak. Segera beli dan berikan Entrostop Herbal Anak sebagai obat diare anak.

Jangan lupa untuk memperhatikan dosis pemakaian.

  • anak usia 6-12 tahun: satu sachet, tiga kali sehari
  • anak di atas 12 tahun: dua sachet, tiga kali sehari

Baca juga: Tips Memulihkan Bayi Mencret dari Risiko Dehidrasi

Hal lain yang harus dilakukan ketika anak diare

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika anak mengalami diare, di antaranya:

Mengatur asupan makanan

Pada sebagian besar kasus diare, biasanya Anda dapat memberi makanan kepada anak secara normal, karena kebanyakan diare akan mereda tanpa membutuhkan perubahan pola makan atau pengobatan. Namun, saat anak diare, sebaiknya mereka melakukan hal berikut:

  • Makan dalam porsi yang lebih sedikit tapi dilakukan sepanjang hari daripada makan dalam porsi besar sebanyak 3 kali sehari.
  • Mengonsumsi makanan asin, seperti kue asin atau sup

Ketika dibutuhkan, perubahan pada pola makan dapat menjadi obat diare anak yang bermanfaat untuk membantu meredakan gejala diare. Sebenarnya tidak ada aturan spesifik mengenai ini. Namun, si Kecil sebaiknya diberi makanan yang hambar, seperti:

  • Daging, ayam atau ikan yang di panggang
  • Telur rebus
  • Pisang dan buah segar lain
  • Nasi putih
  • Sayuran rebus, seperti wortel, kacang panjang, dan jamur
  • Makanan penutup dan camilan, seperti jeli, kue kering, dan es loli

Menghindari makanan tertentu

Obat diare anak tidak selalu berupa makanan. Langkah pencegahan pun dapat membantu mengatasi diare. Beberapa jenis makanan perlu dihindari anak yang sedang diare, di antaranya makanan yang berminyak, berlemak, makanan cepat saji, donat, dan sosis.

Hindari juga untuk memberi si Kecil jus murni tanpa menambahkan air atau es karena dapat membuat feses jadi lebih cair.

Batasi atau kurangi asupan susu dan olahannya jika makanan tersebut memperburuk diare atau menyebabkan anak sering kentut dan kembung.

Si Kecil perlu menghindari makanan yang dapat menyebabkan tubuh memproduksi gas lebih banyak. Contohnya brokoli, kacang-kacangan, berri, dan jagung.

Anda juga perlu memperhatikan minuman yang mengandung kafein dan yang telah dikarbonasi saat anak diare.

Kapan harus menghubungi dokter?

Obat diare khusus anak sesuai usia dapat diberikan sebagai pertolongan pertama di rumah. Namun, jika diare terjadi pada anak yang berusia di bawah 3 bulan, selalu bawa si Kecil ke dokter anak. Selain itu, Anda juga perlu membawa si Kecil ke dokter jika:

  • Mengalami diare kronis
  • Menemukan atau mendapati bercak darah pada feses
  • Berat badan turun

Lalu, segera bawa juga si Kecil ke UGD saat mengalami diare bersamaan dengan:

  • Menunjukan gejala dehidrasi, yaitu tidak dapat buang air kecil, terlihat pucat dan kurus, mata cekung, pergelangan tangan dan kaki dingin, lemas, atau rewel.
  • Cairan tubuh terus menurun dan merasakan nyeri pada bagian perut atau nyeri tidak kunjung hilang.
  • Anda khawatir dengan kondisi si Kecil. Orang yang paling memahami si Kecil adalah Anda sendiri. Jadi saat ragu atau khawatir karena si Kecil terlihat sakit, segera bawa ke dokter.

Anda tidak perlu khawatir dan panik ketika mendapati si Kecil terserang diare. Lakukan saja perawatan dengan obat diare untuk anak yang telah dijelaskan di atas.

 

Sumber:

Caring for Kids. (2018). Dehydration and diarrhea in children: Prevention and treatment – Caring for Kids. Diakses 13 Desember 2019

First Aid: Diarrhea (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2018). Diakses 13 Desember 2019

Fries, W. C. (2012, April 5). Diarrhea in Children: Causes and Treatments. Diakses 13 Desember 2019

When your child has diarrhea: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2016). Diakses 13 Desember 2019

Doustfatemeh, S., Imanieh, M. H., Mohagheghzade, A., Zarshenas, M. M., Torkamani, Z., Yousefi, G., … Salehi, A. (2017). The Effect of Black Tea (Camellia sinensis (L) Kuntze) on Pediatrics With Acute Nonbacterial Diarrhea. Journal of Evidence-Based Complementary & Alternative Medicine, 22(1), 114–119. https://doi.org/10.1177/2156587216654600

Gupta, P., & Birdi, T. (2015). Psidium guajava leaf extract prevents intestinal colonization of Citrobacter rodentium in the mouse model. Journal of Ayurveda and Integrative Medicine, 6(1), 50–52. https://doi.org/10.4103/0975-9476.146557

Chen, J.-C., Huang, L.-J., Wu, S.-L., Kuo, S.-C., Ho, T.-Y., & Hsiang, C.-Y. (2007). Ginger and Its Bioactive Component Inhibit EnterotoxigenicEscherichia coliHeat-Labile Enterotoxin-Induced Diarrhea in Mice. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 55(21), 8390–8397. https://doi.org/10.1021/jf071460f

Hewlings, S., & Kalman, D. (2017). Curcumin: A Review of Its’ Effects on Human Health. Foods, 6(10), 92. https://doi.org/10.3390/foods6100092

Oral rehydration therapy: a low-tech solution that has saved millions of lives. (2019). Retrieved February 24, 2020

Hitzeman, N., & Romo, C. (2011). Probiotics for Persistent Diarrhea in Children. American Family Physician, 84(1), 25–26. Retrieved February 24, 2020