Jangan Anggap Remeh Masalah Perut Setelah Makan Pedas

Oleh Roby

Jangan Anggap Remeh Masalah Perut Setelah Makan Pedas

Bagi sebagian masyarakat, kurang rasanya jika menu makan tidak dibumbui dengan rasa pedas. Bahkan, beberapa orang makanan pedas sudah menjadi suatu keharusan setiap kali makan. Namun, sensasi pedas ini terkadang memicu beberapa masalah atau gangguan kesehatan terutama di bagian perut termasuk saluran pencernaan. Lalu apa saja dampak yang biasanya terjadi pada tubuh dan bagaimana cara mengatasinya?

Pertimbangkan hal ini sebelum mengonsumsi makanan pedas

Reaksi setiap orang ketika mengonsumsi makanan pedas berbeda-beda. Namun, sensasi panas atau terbakar pasti akan dirasakan semua orang. Bahkan, beberapa orang sama sekali tidak memiliki toleransi dan memilih untuk menghindari jenis hidangan atau olahan, jajanan atau camilan yang memiliki rasa pedas.

Melukai dinding perut (Gastritis)

Dampak yang mungkin cukup sering dirasakan kebanyakan orang adalah gastritis. Kondisi ini terjadi ketika dinding atau lapisan perut mengalami peradangan dan membengkak, salah satu penyebabnya adalah akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas.

Gejala yang timbul ketika Anda mengalami gastritis antara lain:

  • Nyeri atau sakit perut
  • Cegukan
  • Pendarahan di dalam perut
  • Mual dan muntah
  • Merasa kenyang atau panas dalam perut
  • Hilang nafsu makan

Gejala dari gastritis memiliki kemiripan dengan kondisi kesehatan lain sehingga Anda disarankan untuk mendapat diagnosis dari dokter.

Jika dibiarkan, gastritis akibat makanan pedas dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Peptic ulcer, luka di lambung yang memicu nyeri di saluran pencernaan atas
  • Polip lambung, munculnya benjolan di dinding perut dalam
  • Tumor perut, baik yang berjenis kanker atau tidak

Pada kebanyakan kasus, gastritis memerlukan perawatan dengan cara pemberian antasida atau obat lain untuk mengurangi cairan asam dalam perut.  Hal ini bertujuan untuk membantu meredakan gejala yang dirasakan dan mempercepat proses pemulihan dinding perut yang terluka.

Memicu diare

Apabila cukup sering mengidap diare, coba perhatikan apakah Anda termasuk penikmat makanan pedas atau tidak. Makanan yang mengandung kapsaisin termasuk salah satu penyebab diare yang tidak jarang diabaikan orang.

Diare yang terjadi akibat sering makan pedas bisa jadi merupakan bagian dari gejala IBS (Irritable Bowel Syndrome) atau sindrom iritasi usus besar. IBS merupakan kondisi pada saluran cerna yang ditandai dengan gejala-gejala seperti:

Sebuah studi yang diterbitkan World Journal of Gastroenterology menganalisis hubungan antara makanan pedas dan IBS. Mereka menemukan bahwa orang yang mengonsumsi sumber makanan pedas (seperti serbuk cabai, kari, jahe, dan kunyit) lebih dari 10 kali dalam seminggu, lebih berisiko mengidap IBS, dibandingkan dengan yang tidak pernah konsumsi sumber makanan tersebut.

Apabila Anda didiagnosis kondisi ini, biasanya pantangan dari dokter adalah mengonsumsi makanan pedas.

Di sisi lain, selama diare masih berlangsung, Anda dapat melakukan upaya untuk meredakannya dengan cara minum obat diare. Pilih obat diare yang dapat membantu mengurangi frekuensi BAB dan mengembalikan tekstur feses yang cair seperti Entrostop.

Dapat meningkatkan risiko kanker lambung

Meski kemungkinannya kecil, risiko masalah perut akibat makanan pedas yang tidak boleh dianggap sepele adalah kanker lambung. Pertimbangan ini muncul setelah sebuah studi dari Chinese Medical Journal memeriksa sebanyak hampir 40 penelitian dan menemukan bahwa mengonsumsi makanan pedas dalam jumlah yang besar berhubungan dengan meningkatkan risiko kanker lambung.

Dampak kesehatan dari makanan pedas sudah tidak asing lagi didengar masyarakat Indonesia mengingat tingginya konsumsi jenis hidangan ini. Namun, Anda tetap tidak boleh menganggap sepele setiap gangguan kesehatan yang muncul.

Anda tidak perlu benar-benar berhenti mengonsumsi makanan pedas. Anda masih bisa mengonsumsinya asalkan dalam porsi yang terkontrol dan tidak berlebihan.

Segera kurangi konsumsinya jika terjadi masalah pencernaan dan lakukan pengobatan yang tepat misalnya dengan minum obat ketika mengalami diare.

Segera temui dokter jika masalah pencernaan tidak kunjung membaik. Karena bisa saja gejala yang Anda rasakan merupakan pertanda dari kondisi medis yang lebih serius.

 

Referensi:

Keck Medicine of USC. (2019, April 26). Is Your Favorite Spicy Food Damaging Your Stomach? Retrieved August 2, 2020, from https://www.keckmedicine.org/is-your-favorite-spicy-food-damaging-your-stomach/

John Hopkins Medicine. (2019). Gastritis. Retrieved August 3, 2020, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/gastritis

Chen, Y.-H., Zou, X.-N., Zheng, T.-Z., Zhou, Q., Qiu, H., Chen, Y.-L., … Zhao, P. (2017). High Spicy Food Intake and Risk of Cancer: A Meta-analysis of Case–control Studies. Chinese Medical Journal, 130(18), 2241–2250. https://doi.org/10.4103/0366-6999.213968

Esmaillzadeh, A. (2013). Consumption of spicy foods and the prevalence of irritable bowel syndrome. World Journal of Gastroenterology, 19(38), 6465. https://doi.org/10.3748/wjg.v19.i38.6465

Mayo Clinic. (2018). Irritable bowel syndrome – Symptoms and causes. Retrieved August 3, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/irritable-bowel-syndrome/symptoms-causes/syc-20360016

The Campanile. (2020, March). Irritable bowel syndrome – Symptoms and causes. Retrieved August 3, 2020, from https://thecampanile.org/2020/03/17/constant-consumption-of-spicy-food-can-lead-to-stomach-pain/