Haruskah Minum Antibiotik untuk Diare?

Oleh Aprinda

Haruskah Minum Antibiotik untuk Diare?

Diare menjadi penyakit yang umum dikeluhkan banyak orang. Penyakit ini menyebabkan seseorang bolak-balik ke toilet untuk buang air besar dengan feses yang encer, berbau, dan kadang berdarah. Tidak hanya itu, beberapa di antaranya juga mengalami gejala lain, seperti perut mulas, mual, dan demam. Supaya terbebas dari gejala yang mengganggu ini, haruskah Anda minum antibiotik untuk diare?

Haruskah minum antibiotik untuk mengobati diare?

Diare menyebabkan Anda buang-buang air lebih sering dari biasanya. Penyakit ini bisa bertahan selama beberapa hari atau lebih lama. Untungnya, ada berbagai pengobatan yang bisa dipilih untuk mengobati diare, salah satunya minum antibiotik.

Ya, minum antibiotik memang bisa jadi pilihan tepat dalam menyembuhkan diare. Akan tetapi, tidak semua kasus diare boleh diobati dengan jenis obat ini. Anda perlu tahu lebih dahulu penyebab diare yang dialami.

Situs kesehatan Mayo Clinic menyebutkan bahwa antibiotik bisa digunakan untuk mengobati diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit. Bila penyebabnya bukan bakteri atau parasit, antibiotik tidak diperlukan. Mengingat cara kerja antibiotik yang memang membunuh bakteri dan parasit yang menyerang tubuh.

Pilihan antibiotik untuk diare

Penggunaan antibiotik untuk mengobati buang-buang air perlu pengawasan dari dokter. Itu artinya, dokter yang akan meresepkan obat antibiotik mana yang bisa Anda minum sekaligus menentukan dosisnya.

Pasalnya, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dikhawatirkan akan menyebabkan resistensi antibiotik. Ini menyebabkan bakteri kebal terhadap antibiotik sehingga pengobatan jadi tidak efektif, bahkan jadi lebih susah diobati nantinya.

Nah, untuk mengatasi diare, antibiotik yang biasanya diresepkan oleh dokter, antara lain:

Cotrimoxazole

Cotrimoxazole adalah kombinasi dari trimethoprim dan sulfamethoxazole. Antibiotik ini digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, termasuk diare.

Cotrimoxazole tersedia dalam bentuk tablet dan cair yang biasanya diminum sebanyak dua hingga empat kali sehari. Jika Anda diberikan obat cair, kocok dahulu sebelum diminum. Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan obat ini adalah mual, muntah, dan nafsu makan menurun.

Cefixime

Sama seperti cotrimoxazole, cefixime juga digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang menyebabkan diare. Antibiotik ini tersedia dalam bentuk kapsul, tablet kunyah, tablet, dan bubuk. Biasanya obat diminum setiap 12 atau 24 jam sekali.

Meskipun antibiotik ini kadang diresepkan dokter untuk mengobati diare, efek samping yang ditimbulkan juga berupa diare. Ini bisa memperparah diare yang sedang Anda alami. Jadi, pastikan Anda minum obat sesuai aturan.

Metronidazole

Antibiotik lain yang bisa menjadi pilihan untuk mengobati metronidazole. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi diare yang disebabkan oleh bakteri C. difficile yang menginfeksi usus.

Sama seperti antibiotik lainnya, metronidazole juga bisa menimbulkan efek samping, seperti mual, sakit kepala, atau malah diare bertambah parah.

Pilihan obat dan perawatan diare selain antibiotik

Antibiotik bukan obat wajib untuk mengobati diare karena penyebab diare tidak hanya infeksi bakteri atau parasit. Diare juga bisa terjadi akibat infeksi virus atau terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung fruktosa, sorbitol, dan manitol. Pada banyak kasus, diare hanya memerlukan obat yang membantu mengurangi atau menghentikan diarenya sehingga tidak jatuh ke kondisi dehidrasi. 

Tenang, Anda bisa mengobati diare ini dengan obat diare non-antibiotik. Salah satu obat yang bisa dijadikan andalan adalah Entrostop. Anda dapat menemukannya dengan mudah di toko obat atau apotek terdekat.

Entrostop dibuat dari campuran pectin dan apputalgite yang bekerja secara langsung untuk memadatkan tekstur feses sekaligus menyerap racun yang menyebabkan diare. Obat diare ini tersedia dalam bentuk tablet dan kemasan cair yang mudah diminum oleh anak-anak.

Selain minum obat, ada perawatan wajib yang harus Anda terapkan ketika diare. Tujuannya, untuk mendukung pengobatan jadi lebih efektif. Anda perlu meningkatkan asupan cairan dengan banyak minum air putih dan makan sup. Hindari minuman bersoda atau berkafein karena bisa memperparah gejala diare.

Di samping itu, Anda juga perlu mengubah menu makanan selama diare. Hindari makanan yang mengandung banyak lemak, contohnya goreng-gorengan. Sebagai gantinya, pilih makanan yang aman saat diare, yakni tidak membuat usus yang terinfeksi bekerja lebih keras, seperti pisang, roti putih, bubur putih, dan apel yang dihaluskan.

 

Referensi:

Diarrhea – Symptoms and causes. (2019, May 16). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241 [Accessed on April 28th, 2020]

Antibiotic resistance. (2018, February 5). WHO | World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antibiotic-resistance [Accessed on April 28th, 2020]

Cefixime (Oral route) side effects. (n.d.). Mayo Clinic – Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/cefixime-oral-route/side-effects/drg-20073374?p=1 [Accessed on April 28th, 2020]

Omudhome Ogbru, PharmD. (n.d.). Flagyl (metronidazole) side effects, pregnancy use & dosage. MedicineNet. https://www.medicinenet.com/metronidazole/article.htm#what_are_the_side_effects_of_metronidazole [Accessed on April 28th, 2020]

Co-trimoxazole. (n.d.). MedlinePlus – Health Information from the National Library of Medicine. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a684026.html [Accessed on April 28th, 2020]

Entrostop. (n.d.). Kalbe Farma. https://www.kalbe.co.id/id/produk-detil/ArtMID/706/ArticleID/459/Entrostop [Accessed on April 28th, 2020]

Diarrhea management and treatment. (n.d.). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4108-diarrhea/management-and-treatment [Accessed on April 28th, 2020]